<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Teknik Kimia UGM 89 Blog</title>
	<atom:link href="http://chegama89.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://chegama89.wordpress.com</link>
	<description>Blog Alumni Teknik Kimia UGM angkatan tahun 1989</description>
	<lastBuildDate>Thu, 16 Apr 2009 15:57:33 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='chegama89.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Teknik Kimia UGM 89 Blog</title>
		<link>http://chegama89.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://chegama89.wordpress.com/osd.xml" title="Teknik Kimia UGM 89 Blog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://chegama89.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Teknik Kimia UGM Berhasil Kembangkan Teknologi Proses Produksi Biodiesel  secara Kontinu</title>
		<link>http://chegama89.wordpress.com/2009/04/16/teknik-kimia-ugm-berhasil-kembangkan-teknologi-proses-produksi-biodiesel-secara-kontinu/</link>
		<comments>http://chegama89.wordpress.com/2009/04/16/teknik-kimia-ugm-berhasil-kembangkan-teknologi-proses-produksi-biodiesel-secara-kontinu/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 16 Apr 2009 15:57:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>chegama89</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[biodisel]]></category>
		<category><![CDATA[chegama]]></category>
		<category><![CDATA[teknik kimia]]></category>
		<category><![CDATA[ugm]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://chegama89.wordpress.com/?p=33</guid>
		<description><![CDATA[Mengantisipasi semakin berkurangnya cadangan minyak bumi, Pemerintah Indonesia saat ini mulai memproduksi biodiesel sebagai substitusi BBM. Disebutkan dalam blueprint pengelolaan energi nasional 2005-2025 bahwa pemerintah telah menetapkan pemakaian biodiesel sebanyak 2% konsumsi solar pada tahun 2010, 3% pada 2015, dan 5% pada 2025. Selain itu, pemerintah juga menetapkan kebutuhan biodiesel mencapai 720.000 kiloliter pada tahun [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=chegama89.wordpress.com&amp;blog=6165192&amp;post=33&amp;subd=chegama89&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="size-full wp-image-34 alignleft" title="images" src="http://chegama89.files.wordpress.com/2009/04/images.jpeg?w=131&#038;h=134" alt="images" width="131" height="134" />Mengantisipasi semakin berkurangnya cadangan minyak bumi, Pemerintah<br />
Indonesia saat ini mulai memproduksi biodiesel sebagai substitusi BBM.<br />
Disebutkan dalam blueprint pengelolaan energi nasional 2005-2025 bahwa<br />
pemerintah telah menetapkan pemakaian biodiesel sebanyak 2% konsumsi solar<br />
pada tahun 2010, 3% pada 2015, dan 5% pada 2025. Selain itu, pemerintah juga<br />
menetapkan kebutuhan biodiesel mencapai 720.000 kiloliter pada tahun 2010<br />
dan akan ditingkatkan menjadi 1,5 juta kiloliter pada 2015, dan 4,7 juta<br />
kiloliter pada 2025.</p>
<p>Demikian disampaikan Ir. Arief Budiman, M.S., D.Eng. selaku peneliti dan<br />
Koordinator Process System Engineering (PSE) Research Group, Senin (13/4) di<br />
UGM. Dikatakannya bahwa proses pembuatan biodiesel selama ini masih<br />
dilakukan secara batch, yakni bahan baku minyak direaksikan dengan alkohol<br />
dan katalisator basa dalam reaktor tangki berpengaduk selama 90-120 menit.<br />
Setelah itu, dibiarkan beberapa jam agar terbentuk dua lapisan yang kemudian<br />
dipisahkan. Bagian atas berupa biodiesel dan yang bawah berupa campuran<br />
gliserol, katalisator, dan sisa alkohol.</p>
<p>&#8220;Selanjutnya, biodiesel ini dipisahkan dari gliserol, katalisator, dan sisa<br />
alkohol. Salah satu kelemahan sistem batch ini adalah sudah biasa dipakai<br />
pada proses pembuatan biodiesel sehingga hanya cocok untuk kapasitas yang<br />
tidak begitu besar,&#8221; ujar staf pengajar Teknik Kimia UGM ini.</p>
<p><span id="more-33"></span>Disampaikan Arief, PSE Research Group UGM telah berhasil mengembangkan<br />
teknologi pembuatan biodiesel secara kontinu sebagai alternatif pengganti<br />
sistem pembuatan biodiesel secara batch. Prinsip teknologi ini adalah<br />
menggabungkan reaktor dan unit pemurnian ke dalam satu unit operasi yang<br />
dikenal dengan reactive distillation yang di bagian tengahnya ditandai<br />
dengan zona reaksi. Zona tersebut adalah zona reaksi pembentukan biodiesel<br />
dari minyak, metanol, dan katalisator terjadi. Lantas, pada bagian atas yang<br />
merupakan zona recovery metanol akan memungut kembali metanol sisa yang<br />
belum bereaksi. Sementara itu, di bagian bawah menjadi zona pemurnian<br />
biodiesel.</p>
<p>&#8220;Dengan konfigurasi seperti itu, bahan yang keluar dari unit operasi atau<br />
kolom sudah terpisah antara biodiesel dengan gliserol. Dengan begitu, di<br />
dalam satu unit operasi ini akan terjadi reaksi dan proses pemurnian secara<br />
simultan,&#8221; lanjutnya.</p>
<p>Ratna Dewi Kusumaningtyas, seorang peneliti yang juga mahasiswa S3 Teknik<br />
Kimia UGM, menjelaskan teknologi yang dikembangkan ini dapat dipakai untuk<br />
membuat biodiesel dari berbagai minyak, termasuk minyak jarak dan minyak<br />
sawit. Secara prinsip, reaksi antara minyak, metanol, dan katalisator dapat<br />
dijalankan didalam kolom reaksi yang berfungsi sebagai reaktor sekaligus<br />
pemurnian biodiesel. Sementara itu, recovery metanol dijalankan dengan<br />
kondenser yang dipasang di bagian atas kolom.</p>
<p>&#8220;Dari penelitian yang kami lakukan, konversi biodiesel dari minyak sawit<br />
bisa mencapai 94 persen. Sementara itu, jika dijalankan dengan sistem batch,<br />
konversi tidak lebih dari sembilan puluh persen. Hasil biodiesel yang<br />
diperoleh dari teknologi proses yang dikembangkan ini relatif lebih jernih<br />
dibandingkan dengan hasil biodiesel dari proses batch. Bahkan setelah<br />
dianalisis, biodieselnya juga memenuhi spesifikasi yang disyaratkan oleh<br />
Standar Nasional Indonesia,&#8221; jelas Dewi.</p>
<p>Peneliti lain, Ir. Sutijan, M.T., Ph.D., menambahkan kelebihan teknologi ini<br />
adalah terjadinya pengurangan capital cost karena berkurangnya reaktor,<br />
pipa, dan instrumentasinya. Di samping itu, biaya operasi atau biaya per<br />
unit massa produk menjadi lebih murah karena konversi yang diperoleh lebih<br />
tinggi. Dari sisi unit operasi, reaksi dan pemisahan berjalan pada satu alat<br />
sehingga lebih kompak dibandingkan dengan proses batch.</p>
<p>&#8220;Proses produksi biodiesel yang dikembangkan ini berlangsung secara kontinu<br />
sehingga cocok untuk kapasitas besar karena bisa lebih menghemat waktu dan<br />
tenaga untuk operasi,&#8221; tambah Sutijan yang juga staf pengajar Teknik Kimia<br />
UGM.</p>
<p>Sementara itu, Ir. Rochmadi, S.U., Ph.D. selaku anggota peneliti PSE<br />
Research Group menuturkan saat ini miniplant pabrik biodiesel secara kontinu<br />
dengan kapasitas 15 liter per hari telah beroperasi di Teknik Kimia,<br />
Fakultas Teknik UGM. Miniplant ini diharapkan dapat diaplikasikan pada skala<br />
besar, yaitu untuk scale up ke kapsitas menengah atau sekitar 500-1000 liter<br />
per hari.</p>
<p>&#8220;Tahapan ini sangat diperlukan sebelum pabrik skala besar berdiri, terutama<br />
untuk memastikan konfigurasi pabrik bisa berjalan dengan baik dan sekaligus<br />
akan sangat berguna bagi SDM yang akan mengoperasikan pabrik skala besar,&#8221;<br />
imbuh Rochmadi.</p>
<p>Ketua Jurusan Teknik Kimia UGM, Prof. Suryo Purwono, M.A.Sc., Ph.D.,<br />
berharap keberhasilan tim PSE Research Group dalam mengembangkan teknologi<br />
produksi biodiesel secara kontinu akan segera diikuti dengan tahapan scale<br />
up skala menengah agar dapat segera diaplikasikan pada skala industri.<br />
Teknologi ini merupakan wujud inovasi teknologi warga UGM dalam mewujudkan<br />
dan memperkuat posisi UGM sebagai world class research university. (Humas<br />
UGM)</p>
<p><a href="http://www.ugm.ac.id/index.php?page=rilis&#038;artikel=1923" rel="nofollow">http://www.ugm.ac.id/index.php?page=rilis&#038;artikel=1923</a></p><br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/chegama89.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/chegama89.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/chegama89.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/chegama89.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/chegama89.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/chegama89.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/chegama89.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/chegama89.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/chegama89.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/chegama89.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/chegama89.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/chegama89.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/chegama89.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/chegama89.wordpress.com/33/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=chegama89.wordpress.com&amp;blog=6165192&amp;post=33&amp;subd=chegama89&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://chegama89.wordpress.com/2009/04/16/teknik-kimia-ugm-berhasil-kembangkan-teknologi-proses-produksi-biodiesel-secara-kontinu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1393e7f16e745272f39ec1c3f064519a?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">chegama89</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://chegama89.files.wordpress.com/2009/04/images.jpeg" medium="image">
			<media:title type="html">images</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Teliti Kinetika Pembentukan Klinker Semen Portland, Sumardi Raih Doktor</title>
		<link>http://chegama89.wordpress.com/2009/01/29/teliti-kinetika-pembentukan-klinker-semen-portland-sumardi-raih-doktor/</link>
		<comments>http://chegama89.wordpress.com/2009/01/29/teliti-kinetika-pembentukan-klinker-semen-portland-sumardi-raih-doktor/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Jan 2009 02:14:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>chegama89</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dosen]]></category>
		<category><![CDATA[chegama]]></category>
		<category><![CDATA[sumardi]]></category>
		<category><![CDATA[teknik kimia]]></category>
		<category><![CDATA[ugm]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://chegama89.wordpress.com/?p=30</guid>
		<description><![CDATA[23 January 2009 Teliti Kinetika Pembentukan Klinker Semen Portland, Sumardi Raih Doktor Jangan sia-siakan limbah reruntuhan bangunan. Apalagi limbah tersebut mencapai jumlah yang sangat banyak. Demikian pesan Ir P Sumardi SU saat melaksanakan ujian terbuka program doktor UGM bidang ilmu teknik kimia. Karena bagaimanapun, katanya, sisa-sisa reruntuhan bangunan tersebut masih dapat dimanfaatkan sebagai bahan alternatif [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=chegama89.wordpress.com&amp;blog=6165192&amp;post=30&amp;subd=chegama89&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>23 January 2009</p>
<p>Teliti Kinetika Pembentukan Klinker Semen Portland, Sumardi Raih Doktor<br />
Jangan sia-siakan limbah reruntuhan bangunan. Apalagi limbah tersebut mencapai jumlah yang sangat banyak. Demikian pesan Ir P Sumardi SU saat melaksanakan ujian terbuka program doktor UGM bidang ilmu teknik kimia.<br />
<span id="more-30"></span>Karena bagaimanapun, katanya, sisa-sisa reruntuhan bangunan tersebut masih dapat dimanfaatkan sebagai bahan alternatif untuk industri semen Portland. Secara kimia dan mineralogi, bahan sisa-sisa bangunan tersebut mengandung oksid yang diperlukan sebagai bahan baku industri semen.<br />
&#8220;Reruntuhan itu terkadang sebagai akibat renovasi, bencana alam, misalnya gempa, banjir yang menjadikan tembok/beton runtuh. Oleh karena itu, sebagai gambaran saja untuk pembongkaran 110 bangunan perumahan tipe 70m2, maka limbah yang terbuang dapat berupa beton, mortar dan plaster sebanyak 2.350m3 dan reruntuhan batu bata mencapai 3.240 m3,&#8221; ujarnya, di gedung Sekolah Pascasarjana UGM belum lama ini.<br />
Dalam ujiannya, staf pengajar Jurusan Teknik Kimia, FT UGM ini mempertahankan desertasi &#8220;Kinetika Pembentukan Klinker Semen Portland Dari Bahan Buangan Bangunan Beton, Mortar dan Plaster&#8221;. Promovendus didampingi promotor Prof Dr Ir Ida Bagus Agra dan ko-promotor Prof Ir Wahyudi Budi Setiawan SU PhD serta Prof Ir I Made Bendiyasa MSc PhD.<br />
Pria kelahiran Klaten 10 Oktober 1952 ini, dalam desertasinya melakukan penelitian tentang kinetika reaksi pada pembentukan klinker semen Portland, identifikasi burning ability dari raw mix untuk mendapatkan kualitas klinker semen yang sesuai dengan ASTM C150-04a, yaitu semen portland tipe I. Dirinya berharap penelitian ini akan memberikan manfaat dan membantu semen Portland untuk mendapatkan bahan baku alternatif.<br />
Selain itu penelitian ini juga memberikan model kinetika reaksi yang bersifat &#8220;better understanding&#8221; sehingga membantu industri semen Portland untuk memanfaatkan demolition rubbles. &#8220;Namun yang pasti, dengan penelitian ini diharapkan dapat memperpanjang masa pakai bahan galian batu kapur saat ini,&#8221; tandas suami MC Purwandiningsih, ayah empat anak ini. (Humas UGM)</p>
<p><a href="http://www.gadjahmada.edu/index.php?page=rilis&amp;artikel=1742">http://www.gadjahmada.edu/index.php?page=rilis&#038;artikel=1742</a></p><br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/chegama89.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/chegama89.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/chegama89.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/chegama89.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/chegama89.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/chegama89.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/chegama89.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/chegama89.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/chegama89.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/chegama89.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/chegama89.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/chegama89.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/chegama89.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/chegama89.wordpress.com/30/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=chegama89.wordpress.com&amp;blog=6165192&amp;post=30&amp;subd=chegama89&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://chegama89.wordpress.com/2009/01/29/teliti-kinetika-pembentukan-klinker-semen-portland-sumardi-raih-doktor/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1393e7f16e745272f39ec1c3f064519a?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">chegama89</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Setyawati Yani</title>
		<link>http://chegama89.wordpress.com/2009/01/19/setyawati-yani/</link>
		<comments>http://chegama89.wordpress.com/2009/01/19/setyawati-yani/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 19 Jan 2009 17:04:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>chegama89</dc:creator>
				<category><![CDATA[Chegama89]]></category>
		<category><![CDATA[setyawati yani]]></category>
		<category><![CDATA[teknik kimia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://chegama89.wordpress.com/?p=17</guid>
		<description><![CDATA[Salah satu teman kita baru saja menyelesaikan PhD dari University of Western Australia, ibu ini merintis karir sebagai dosen di Palu. Atas nama keluarga besar teknik kimia 89 kami mengucapkan selamat pada wati semoga ilmu yang didapat bermanfaat bagi anak didik khususnya. Menambah deretan Doktor dari 89 sebelumnya Yossi yang sudah mencapai PhD terlebih dahulu.<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=chegama89.wordpress.com&amp;blog=6165192&amp;post=17&amp;subd=chegama89&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:left;"><img class="alignnone size-full wp-image-20" title="wati1" src="http://chegama89.files.wordpress.com/2009/01/wati1.jpg?w=302&#038;h=202" alt="wati1" width="302" height="202" /></p>
<p>Salah satu teman kita baru saja menyelesaikan PhD dari <strong>University of Western Australia</strong>, ibu ini merintis karir sebagai dosen di Palu.</p>
<p>Atas nama keluarga besar teknik kimia 89 kami mengucapkan selamat pada wati semoga ilmu yang didapat bermanfaat bagi anak didik khususnya.</p>
<p>Menambah deretan Doktor dari 89 sebelumnya Yossi yang sudah mencapai PhD terlebih dahulu.</p><br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/chegama89.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/chegama89.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/chegama89.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/chegama89.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/chegama89.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/chegama89.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/chegama89.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/chegama89.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/chegama89.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/chegama89.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/chegama89.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/chegama89.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/chegama89.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/chegama89.wordpress.com/17/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=chegama89.wordpress.com&amp;blog=6165192&amp;post=17&amp;subd=chegama89&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://chegama89.wordpress.com/2009/01/19/setyawati-yani/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1393e7f16e745272f39ec1c3f064519a?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">chegama89</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://chegama89.files.wordpress.com/2009/01/wati1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">wati1</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mengenang Sosok Boma Wikan Tyoso</title>
		<link>http://chegama89.wordpress.com/2009/01/18/mengenang-sosok-boma-wikan-tyoso/</link>
		<comments>http://chegama89.wordpress.com/2009/01/18/mengenang-sosok-boma-wikan-tyoso/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 18 Jan 2009 10:39:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>chegama89</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dosen]]></category>
		<category><![CDATA[boma wikam tyoso]]></category>
		<category><![CDATA[chegama. teknik kimia]]></category>
		<category><![CDATA[teknik kimia]]></category>
		<category><![CDATA[ugm]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://chegama89.wordpress.com/?p=15</guid>
		<description><![CDATA[Mengenang Sosok Boma Wikan Tyoso (Beliau adalah Dosen Teknik Kimia UGM dimana putra sulung beliau adalah Keluarga Besar Chegama 89 ; Yossi Nirmolo) 2008-07-30, Bila dikatakan, “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya”, maka tidak salah bila juga dikatakan bahwa jurusan yang besar adalah yang tidak melupakan jasa para dosennya. Terlebih lagi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=chegama89.wordpress.com&amp;blog=6165192&amp;post=15&amp;subd=chegama89&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Mengenang Sosok Boma Wikan Tyoso</strong></p>
<p><img class="alignleft size-full wp-image-25" title="boma1" src="http://chegama89.files.wordpress.com/2009/01/boma1.jpg?w=210&#038;h=269" alt="boma1" width="210" height="269" />(Beliau adalah Dosen Teknik Kimia UGM dimana putra sulung beliau adalah Keluarga Besar Chegama 89 ; Yossi Nirmolo)</p>
<p>2008-07-30,</p>
<p>Bila dikatakan, “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya”, maka tidak salah bila juga dikatakan bahwa jurusan yang besar adalah yang tidak melupakan jasa para dosennya. Terlebih lagi apabila dosen tersebut merupakan salah satu dosen besar yang tidak hanya berjasa bagi jurusan tetapi juga bagi universitas. Kita semua telah ditinggalkan dengan derasnya aliran ilmu yang Almarhum tanamkan, baik dalam kuliahnya sehari – hari maupun dalam teladan hidupnya. Oleh karena itu, mari kita bersama – sama sejenak mengenang sekaligus mengenal lebih dekat sosok gagah Prof. Dr. Ir. Boma Wikan Tyoso, M.Sc. melalui lika &#8211; liku hidup unik yang menjadikannya sebagai salah satu sosok yang disegani, bahkan hingga akhir hayatnya.</p>
<p>Balikpapan, 20 Desember 1940</p>
<p>Perjalanan hidup seorang Boma Wikan Tyoso dimulai pada tanggal 20 Desember 1940 di Balikpapan. Nama Boma Wikan Tyoso memiliki arti tersendiri. Boma diambil dari nama Prabu Boma Naroko Suro, seorang raja dari kerajaan Traju Trisna, putra Kresna, yang terkenal sakti. Nama Wikan berarti pandai, sedangkan Tyoso berasal dari gabungan Pratiwi dan Kanoejoso. Tentunya harapan orangtuanya bahwa ia akan menjadi seseorang yang ‘sakti’ dan pandai. Ia lahir dari pasangan dr. Kanoejoso Djatiwibowo dan R.A. Pratiwi. Ayahnya berasal dari Madiun, seorang dokter lulusan STOVIA Jakarta. Kanoejoso mempersunting R.A. Pratiwi lalu memboyongnya ke Balikpapan untuk menjalankan tugasnya sebagai dokter sekaligus kepala rumah sakit di RS Balikpapan. Boma kecil lahir berselang 1 tahun setelah kakaknya, Retno Wikan Tyasning yang lahir pada tanggal 18 Desember 1939.<br />
Belum genap berusia 2 tahun, Boma harus meninggalkan tempat kelahirannya. Perang kemerdekaan melawan Jepang yang pecah di Balikpapan tentu membahayakan keselamatan masyarakat, tak terkecuali Boma dan keluarganya. Jepang tidak segan-segan membunuh seluruh kaum intelektual yang ada. Kanoejoso tidak ikut serta mengungsi karena ikut berjuang melawan Jepang dan bertanggungjawab selaku pimpinan rumah sakit.<br />
Sesampainya di Yogyakarta, Boma dan keluarganya tinggal bersama orang tua Pratiwi Kanoejoso di Suryodiningratan. Ny. Pratiwi adalah putri dari GBPH Suryodiningrat. Beberapa tahun berselang, karena kesulitan komunikasi, baru pada akhir 1946, Palang Merah Internasional memberikan kabar duka tentang Kanoejoso bahwa beliau telah gugur dieksekusi Jepang menjelang kekalahan Jepang dalam Perang Dunia II. Masa kecil Boma pun dijalaninya tanpa berkesempatan mengenal lebih dekat tentang ayahnya.<br />
Pratiwi Kanoejoso tidak menikah lagi sepeninggal dr. Kanoejoso. Beliau bertekad untuk membesarkan dan memberikan pendidikan yang terbaik untuk kedua anaknya. Meskipun kehidupan sulit, yang penting adalah pendidikan, jangan sampai pendidikan anak-anak terbengkalai, begitu kira-kira pesan terakhir dr. Kanoejoso kepada istrinya.<br />
Ny. Pratiwi adalah sosok wanita yang aktif dan tegar. Beliau sering menulis untuk rubrik pendidikan, kesejahteraan keluarga, dan arena muda-mudi di berbagai surat kabar, dengan nama penulis ‘Pratiwi Knjs’. Karena piawai dalam membuat tulisan, percetakan Kanisius menawarinya untuk menulis buku. Buku-buku hasil karya Pratiwi Knjs antara lain Berkeluarga Secara Arif, Cinta Muda-Mudi, Problem yang Dihadapi Muda-Mudi, dan Dunia Muda-Mudi. Beliau tercatat sebagai anggota PWI (Persatuan Wartawan Indonesia) dan IKWI (Ikatan Keluarga Wartawan Indonesia) serta PMI (Palang Merah Indonesia).<br />
Pada tanggal 20 Mei 1968, Pemerintah RI memberikan penghargaan Satya Lencana kepada dr. Kanoejoso Djatiwibowo. Beberapa tahun kemudian, jenazahnya dipindahkan dari Tanah Grogot, Balikpapan ke TMP Kembang Kuning, Surabaya. Dan akhirnya pada tanggal 1 Mei 1997 Departemen Kesehatan meresmikan Rumah Sakit Balikpapan menjadi Rumah Sakit dr. Kanoejoso Djatiwibowo. Boma Wikan Tyoso dan Retno Wikan Tyasning bersama istri dan suami diundang oleh Gubernur Kalimantan Timur untuk menghadiri peresmian Rumah Sakit dr. Kanoejoso Djatiwibowo tersebut, sedangkan Ny. Pratiwi tidak bisa hadir dikarenakan kondisi kesehatannya yang tidak terlalu baik.</p>
<p><span id="more-15"></span>DRBM</p>
<p>Boma mengenyam pendidikan pertamanya di Sekolah Rakyat Soerjodiningratan. Boma kecil yang biasa berjalan kaki ke sekolahnya bisa dibilang tidak terlalu menonjol di sekolah. Walau begitu ia tidak pernah main-main dengan sekolahnya. Sejak awal, ia memiliki tekad pantang membolos sekolah. Karena baginya, sekali saja membolos maka ia akan ketinggalan pelajaran yang hanya bisa diperoleh dari guru di kelas. Apalagi ayahnya pernah berpesan bahwa pendidikan harus menjadi nomor satu. Seperti halnya anak kecil seusianya, Boma kecil kadang-kadang bandel juga. Ia pernah mengganti nilai ulangan, tapi lupa menghapus tanda silang untuk jawabannya yang salah. Hal ini dilakukannya semata-mata untuk menyenangkan hati ibunya.<br />
Di luar sekolah, ia senang bermain bersama anak-anak lain di kampungnya. Boma tidak pilih-pilih dalam bergaul. Sebagian teman-temannya biasa memanggil ia dengan sebutan ”DRBM”, singkatan dari nDoro Boma, mengingat ia adalah cucu dari GBPH Suryodiningrat. Sebagai seorang penyayang binatang, Boma memiliki berbagai jenis hewan peliharaan seperti ayam, kucing, anjing, dan burung merpati. Tahun 1952, saat lulus dari Sekolah Rakyat, ia mendapat hadiah sebuah sepeda dari paklik-nya, dr. Tejowibowo, yang ia gunakan terus sampai kuliah.<br />
Pendidikan menengah pertama ia tempuh di SMP Negeri 2 Yogyakarta. Sejak SMP, Boma sudah berbadan gemuk sehingga ia sering dijadikan bahan gurauan, namun ia tidak berkecil hati dan tidak menganggapnya serius. Prestasinya ketika SMP pun sedang-sedang saja. Ketika ujian akhir SMP, pada tahun 1955, nilai ujian fisikanya agak jatuh. Dengan modal nilai ujian akhir yang diperolehnya, Boma mendaftarkan diri ke SMA 3 B. Karena ia masih ’berstatus’ cadangan di tersebut, ia sempat mendaftar dan masuk selama sekitar satu minggu di SMA BOPKRI. Namun akhirnya ia berhasil terdaftar sebagai siswa SMA 3 B.<br />
Begitu sukses masuk SMA 3 B, semangat belajarnya pun meningkat. Ia lebih menyukai sistem belajar kelompok, yang digunakan juga sebagai ajang diskusi bersama teman-temannya. Motivasi belajarnya yang tinggi tidak lain adalah untuk membahagiakan ibunya karena ia merupakan satu-satunya anak laki-laki dalam keluarga. Boma termasuk siswa yang menonjol prestasinya di bidang proses pembelajaran. Terbukti, ia masuk peringkat atas di sekolahnya.<br />
Selain berkonsentrasi dengan sekolahnya, kegiatan lain yang diikutinya semasa dari SR sampai SMA adalah keanggotaannya dalam organisasi kepanduan. Dimulai sebagai pemula kemudian perintis dalam lingkungan Mataram XI Pandu Rakyat Indonesia. Boma juga menaruh perhatian pada kebudayaan Jawa bahkan menekuninya. Ia mengikuti latihan seni tari Jawa Gaya Yogyakarta di Krido Bekso Wiromo, dimana ia berguru pada Pak Bagong Kussudiardja dan pamannya, Pak Wisnu Wardhana. Tidak tanggung-tanggung, ia pernah membintangi lakon Djojopusoko (Bima Jadi Raja) dimana ia berperan sebagai Bimanya. Sayangnya kegiatan tersebut tidak ia teruskan setelah menjadi mahasiswa.</p>
<p>Si Botol Limun</p>
<p>Setamatnya dari SMA 3 B pada tahun 1958, Boma mendaftar ke Akademi Angkatan Udara (AAU), Akademi Angkatan Laut (AAL) khusus untuk pendidikan penerbang, Akademi Penerbangan Indonesia (API) di Curug, dan Teknik Kimia UGM. Panggilan pertama datang dari Pendidikan Penerbang Angkatan Laut. Alhasil, lamaran yang lain tidak ia hiraukan, demi cita-citanya menjadi seorang penerbang yang akan menempuh pendidikan di Inggris. Di AAL ini, Boma mendapatkan pelatihan layaknya seorang taruna militer (saat itu disebut sebagai kadet) di Morokrembangan, Surabaya selama 3 bulan sebelum menempuh pendidikan di Inggris. Latihan berbasis militer ini tentunya menuntut kesiapan mental dan fisik, kesigapan, dan kedisiplinan. Dalam pelatihan ini ia mendapatkankan gelar kopral kadetnya.<br />
Dalam pelatihan militer selalu ada apel pagi dimana seorang kadet senior, selaku komandan upacara, memeriksa kelengkapan dan kesiapan kadet junior. Pernah terjadi, kadet Boma lupa belum mencukur rambutnya yang sudah cukup panjang. Karena takut dimarahi kadet senior, ia nekat mencukur sendiri rambutnya dan hasilnya, rambutnya &#8220;blang bonteng&#8221; alias tidak rata. Usahanya ini mengakibatkan ia diperintahkan segera cukur di barber shop di kampus. Pernah pula suatu ketika sehabis latihan fisik, ia bersama beberapa teman, menyelinap ke kantin untuk jajan makanan.<br />
Selama dalam pelatihan itu, ia juga ikut berlayar bersama KRI Dewaruci dengan rute pelayaran : Surabaya, Jakarta, Medan, Surabaya. Selama pelayaran, para kadet kadang-kadang dibangunkan pada pukul 2.00 pagi untuk latihan fisik berupa memanjat melalui sisi luar tangga menara kapal naik turun sebanyak 3 kali. Dengan badannya yang besar, hal itu tentunya cukup sulit, ditambah lagi, ternyata ia tidak mahir berenang! Untungnya, ia selalu waspada dan tidak pernah kecemplung ke laut.<br />
Pada akhirnya, saat mengikuti tes calon penerbang di Halim Perdana Kusuma, ia tidak lulus tes kesehatan, salah satu alasannya karena ia mempunyai tekanan darah rendah sehingga dikhawatirkan dapat terjadi black out dalam bertugas. Ia pun disarankan pindah ke korps marinir (KKO), navigator, atau pelaut tetapi ia tidak mau dan memilih untuk kembali ke Yogyakarta sekitar bulan Februari 1959.</p>
<p>Teknik Kimia</p>
<p>Sebenarnya, ketika diterima di AAL, ia juga diterima di Teknik Kimia FT UGM. Namun sekembalinya dari Akademi, ia sudah tertinggal kuliah sekitar tujuh bulan dan tidak bisa melanjutkan kuliah untuk tahun ajaran tersebut. Jadi ia disarankan untuk ikut tahun ajaran berikutnya.<br />
Alasan Boma memilih teknik kimia adalah karena sosok pamannya, Ir. Padyo Suryodiningrat, seorang sarjana Teknik Kimia yang dinilai Boma sebagai panutan yang sukses. Begitu lulus, Ir. Padyo Suryodiningrat dikirim ke Amerika untuk training. Di usianya yang masih muda, beliau telah bekerja di Pabrik Semen Gresik dan akhirnya menjadi presiden direktur di sana.<br />
Selama menunggu tahun ajaran baru, Boma masih sempat belajar dari pamannya, Pak Wasisto Surjadiningrat, M.Sc., seorang dosen MIPA yang juga mengajar di Teknik Kimia. Merasa telat satu tingkat dari teman-teman seangkatannya saat SMA, ia tidak lantas surut semangat, melainkan semakin termotivasi untuk mengejar ketertinggalannya. Pada pendaftaran mahasiswa baru untuk tahun ajaran 1959, ia pun diterima menjadi mahasiswa Teknik Kimia FT UGM.<br />
Sejak awal masuk, ia langsung terkenal di kalangan mahasiswa karena postur tubuhnya yang tinggi besar. Ketika masa orientasi mahasiswa, ia sering ditunjuk untuk maju ke panggung, dipanggil dengan nama Botol Limun, bahkan dinobatkan sebagai King.<br />
Memasuki dunia Teknik Kimia, ia bertekad untuk menunjukkan prestasinya agar tidak tertinggal dengan teman-teman seangkatan di masa SMA. Juga agar mudah dekat dengan para dosen. Saat itu, jurusan Teknik Kimia UGM memiliki sejumlah dosen dari Amerika karena adanya kerjasama antara UGM dengan University of California, Los Angeles, USA (UCLA). Bahasa Inggris pun menjadi bahasa pengantar dalam beberapa kuliah di lingkungan Jurusan Teknik Kimia.<br />
Ketika di bangku kuliah, Boma tidak ikut suatu organisasi ekstra universiter secara khusus. Tetapi ia tetap aktif dalam kegiatan-kegiatan kampus seperti orientasi mahasiswa karena pada dasarnya ia senang berteman. Seperti pada tahun kedua, Boma ikut menjadi panitia inti orientasi mahasiswa baru Fakultas Teknik UGM. Ia juga termasuk dalam anggota The Big 3, tiga orang mahasiswa berbadan besar di Fakultas Teknik yang mengisi kepanitiaan orientasi mahasiswa tingkat universitas di bagian keamanan, bersama Ismoyo (T. Sipil) dan Marwoto (T. Kimia).<br />
Di tahun ketiga, ia menjadi asisten praktikum Kimia Organik di Teknik Kimia, Kedokteran Umum, Kedokteran Gigi, dan Farmasi. Boma sudah mampu mencari uang sendiri dan meringankan beban ibunya. Ia juga mendapat beasiswa tugas belajar dari Perusahaan Listrik Negara (PLN), yang selanjutnya akan dipekerjakan di PGN (Perusahaan Gas Negara, yang saat itu berada di bawah PLN). Selain itu Boma ditarik menjadi asisten untuk mata kuliah Proses Kimia yang diampu Pak Agra.<br />
Pada akhir masa studinya, Teknik Kimia terbagi menjadi Jurusan Teknik Kimia Umum dan Jurusan Teknik Kimia Bahan Makanan. Prof. Winoto, pakar Teknologi Bahan Makanan, menawarinya kesempatan menjadi dosen, dengan konsekuensi ia harus rela melepas beasiswa PLN. Maka ia pun mencari pengganti untuk tugas belajar PLN-nya, dan menjadi dosen adalah pilihannya.<br />
Selepas studi di Jurusan Teknik Kimia FT UGM, Boma langsung dikirim meneruskan pendidikannya di University of California, Davis, USA pada Department of Food Science and Technology. Semula, ia hanya dikirim untuk advance training sebagai dosen (non degree), namun ia bersikeras mengikuti program Master degree. Sehingga untuk menyelesaikan S2-nya tersebut, terpaksa meminta perpanjangan selama satu tahun lagi. Permintaannya ini dikabulkan. Studi ini dibiayai dengan beasiswa dari US AID (Agency of International Development) melalui kerja sama UCLA dengan UGM dan dapat diselesaikannya dalam waktu kurang lebih satu setengah tahun.<br />
Uang beasiswa yang diterima Boma sebagian ditabung hingga cukup untuk membeli mobil sendiri. Mobilnya berupa Fiat Deluxe 1100. Dengan mobilnya ini, ia bersama teman-temannya berwisata ke berbagai tempat di akhir minggu. Tapi untuk pergi ke kampus, Boma tetap memakai sepedanya. Pada tahun pertama Boma tinggal satu apartemen dengan teman-teman dari UGM juga, yaitu Adhi Susanto dan Jutono, dan seorang lagi dari Ethiopia. Pada tahun ke-2 dalam studinya di UCD, Boma sempat tinggal bersama keluarga Amerika. Keadaan ini membiasakannya untuk berbahasa Inggris dalam pergaulan sehari-hari.<br />
Selama menempuh S2, ia tidak merasa inferior, juga tidak merasakan perlakuan yang berbeda dari para pengajar. Bekal bahasa Inggris yang diperoleh selama kuliah dengan pengajar asing, serta bekal pendidikan teknik kimia yang diperolehnya selama studi S1 di Teknik Kimia UGM dirasakan sangatlah cukup untuk melanjutkan studi di luar negeri. Ia bahkan sering dimintai bantuannya untuk menyelesaikan PR oleh teman-teman dari negara lain. Menurutnya, tingkat kegagalan mahasiswa Indonesia ketika meneruskan pendidikan di luar negeri sangat kecil, kebanyakan mereka akan dapat menyelesaikannya dengan baik. Tepat pada awal tahun 1966, Boma menerima gelar M.Sc.<br />
Ketika berangkat untuk studi S2-nya di USA, tahun 1964, di Indonesia sedang hangat-hangatnya seruan go to hell with American AID akibat merebaknya pengaruh komunisme. Rombongannya merupakan rombongan terakhir yang dikirim untuk studi ke Amerika dengan beasiswa tersebut karena alasan politik. Hal ini merupakan hal yang kurang mengenakkan bagi Boma dan kawan-kawan.<br />
Boma mulai menempuh pendidikan S3 pada tahun 1982, setelah menjabat sebagai Pembantu Dekan III. Pendidikan ini ia tempuh di Kansas State University, Manhattan, Kansas, USA atas biaya dari World Bank. Seperti sebelumnya, ia memilih departemen Food Science dengan penelitian dan observasi di bidang Food Engineering.<br />
Berbeda dengan kondisi studi sebelumnya, ketika S3 Boma sudah berkeluarga. Pada tahun kedua, keluarganya pun menyusul ke Kansas. Untuk membiayai keluarganya selama di Kansas, beasiswa yang diterimanya itu tidaklah cukup. Bermaksud meringankan beban suami, maka isterinya, Humi Utami bekerja di cafetaria kampus Kansas State University (KSU). Anak-anaknya juga sudah belajar mencari tambahan uang sendiri dengan menjadi loper koran. Meskipun demikian, pendidikan anak-anak tetap ia perhatikan. Salah satu hal yang disukai Boma dari sistem pendidikan sekolah di USA pada umumnya adalah bahwa anak-anak sudah diberi tanggung jawab sejak di elementary school, seperti ikut mengelola perpustakaan sekolah, sehingga ketika dewasa mereka akan terbiasa mengemban tanggung jawab dengan baik.<br />
Dalam penelitian untuk disertasinya, Boma menganalisis pengaruh aerasi dengan kecepatan sangat rendah pada gabah padi dalam fixed bed terhadap kadar air dan suhu serta kemungkinan penerapannya untuk penyimpanan gabah padi dengan kondisi iklim tropis di Indonesia. Hal ini berkaitan dengan praktek penyimpanan padi dalam storage bin. Untuk penelitiannya itu, ia dibimbing oleh seorang guru besar teknik kimia senior berkewarganegaraan Amerika dan seorang guru besar teknik pertanian berkebangsaan Korea. Kedua dosen pembimbing ini di luar kampus pun sangat care dan dekat dengan Boma serta keluarganya. Untuk kelengkapan data-data fisis di Indonesia, Boma meminta bantuan dosen muda yang sangat dekat dengannya di Teknik Kimia UGM, Wahyudi Budi Sediawan, untuk mengirimkan data-data cuaca dari Kantor BMG di Jakarta. Boma berhasil menyelesaikan studinya pada tahun 1987, sekitar 4 ½ tahun setelah ia memulainya.”Mahasiswa pada zaman saya kuliah dulu kurang dalam hal fasilitas, tapi fighting spirit-nya besar sehingga kami serius dalam belajar dengan sungguh-sungguh, kebersamaan baik antar sesama mahasiswa maupun mahasiswa dengan dosen lebih terasa, uang kuliah tidak mahal, tugas cukup sederhana, tidak seperti masa-masa sesudahnya.”</p>
<p>Tidak jadi berpaling dari dunia pendidikan</p>
<p>Perjalanan karir Boma Wikan Tyoso merupakan kisah yang menarik untuk diikuti. Lulus dari Jurusan Teknik Kimia FT-UGM pada tahun 1964, Boma diangkat menjadi asisten ahli. Pada tahun itu juga ia segera dikirim belajar ke UCLA, Davis, USA dan kembali ke Indonesia tahun 1966. Pada tahun 1974, ia menjabat sebagai Sekretaris Bagian Teknik Kimia. Satu tahun kemudian ia menjadi Sekretaris Fakultas Teknik untuk dua periode sekaligus. Dengan keuletan dan kerja kerasnya, ia lalu diberi kepercayaan menjabat sebagai Pembantu Dekan III Fakultas Teknik.<br />
Selepas menjabat Pembantu Dekan, ia berangkat ke Kansas State University untuk program studi S-3 dari tahun 1982 sampai tahun 1987. Setelah kembali ke Indonesia, ia diberi tanggung jawab mengelola Pusat Antar Universitas (PAU) UGM, sebagai Sekretaris Bidang Program PAU Ilmu Teknik dari tahun 1989 sampai 1991. PAU merupakan program pemerintah, di mana 4 universitas terkemuka di Indonesia (UI, ITB, UGM, dan IPB) diharuskan memiliki pusat studi unggulan sebagai basis riset dan pengembangan ilmu pengetahuan. Di tahun yang sama, ia juga ditunjuk menjadi Kepala Laboratorium Teknologi Bahan Makanan hingga tahun 2006. Pada tahun 1989, Boma menduduki jabatan Ketua Jurusan Teknik Kimia. Setahun kemudian, ia menerima tanda jasa Piagam Penghargaan 25 Tahun Mengabdi dari Fakultas Teknik UGM sebagai penghargaan atas pengabdiannya. Sebelumnya ia menerima tanda penghargaan kesetiaan dari UGM pada tahun 1989.<br />
Tidak tanggung-tanggung, setahun kemudian ia menjabat sebagai Dekan Fakultas Teknik, selagi ia masih menjabat sebagai Ketua Jurusan. Tentunya dibutuhkan tanggung jawab besar untuk melaksanakan tugas-tugasnya selaku orang nomor satu di Fakultas Teknik. Fakultas Teknik yang mempunyai delapan jurusan dan jumlah mahasiswa sekitar 5000-an, mempunyai potensi yang besar dan harus dikembangkan. Sebagai seorang dekan, Boma bercita-cita menjadikan Fakultas Teknik UGM sebagai salah satu Fakultas Teknik yang berwibawa di Indonesia maupun di tingkat internasional. Ia juga mengharapkan Fakultas Teknik UGM sebagai pusat pendidikan tinggi teknik dapat mencetak lulusan yang berkualitas. Selain itu, FT-UGM juga harus mampu mengembangkan program studi yang dimilikinya untuk selalu mengikuti kemajuan iptek. Pada 1 April 1993, Boma diangkat menjadi Guru Besar Madya hingga akhirnya jabatan fungsional Guru Besarnya ia peroleh pada 1 Januari 2001.<br />
Karirnya tidak berhenti sampai di sini saja. Sesudah menjabat dekan, ia berkantor di gedung pusat untuk memangku jabatan sebagai Pembantu Rektor Bidang Akademik selama 4 tahun. Saat menjabat sebagai PR I ini, karirnya tidak hanya di lingkungan kampus saja, ia masih diminta menjadi anggota Tim Ahli Gubernur DIY sebagai Staf Ahli Bidang Pembangunan, bersama Sultan Hamengkubuwono X sebagai ketua tim, Prof. Dr. Loekman Soetrisno, dan Dr. Warsito Utomo, dan Dr. Princess yang bertugas memberikan saran dan masukan yang diperlukan Gubernur guna mewujudkan masyarakat Yogyakarta yang maju dan berkepribadian.<br />
Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti) pun memberikan kepercayaan padanya untuk masuk menjadi anggota Majelis Pendidikan Dewan Pendidikan Tinggi pada tahun 1997. Di tahun 1998, ia didaulat menjadi Sekretaris Senat UGM hingga selanjutnya menjabat Ketua Senat Akademik Sementara dan kembali dipercaya oleh Ditjen Dikti menjadi anggota The Team for University Autonomy in The Directorate General of Higher Education. Tak hanya itu saja, Depdikbud/Depdiknas pun memberinya kesempatan untuk bergabung menjadi anggota Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi. Hal ini menunjukkan betapa Boma memang benar-benar sangat peduli terhadap perkembangan pendidikan di tanah air. Dengan bergabungnya ia ke dalam beberapa institusi di lingkungan Depdikbud/Depdiknas, ia berkesempatan memberikan pandangan dan pendapatnya yang nantinya diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan dalam merumuskan kebijakan untuk memajukan pendidikan di Indonesia. Tepat tahun 2003, ia menjabat Ketua Majelis Guru Besar Universitas Gadjah Mada hingga purna tugasnya sekarang ini.<br />
Tepat jika jabatan Ketua Majelis Guru Besar itu diberikan kepadanya, mengingat banyak prestasi yang dihasilkan mulai dari karir jabatan fungsional dan struktural, pernah aktif pada organisasi profesi seperti Persatuan Insinyur Indonesia (PII), Institut of Food Technologists USA, The Honor Society Gamma Sigma Delta USA, Perhimpunan Ahli Teknologi Pangan Indonesia, The Honor Society Phi Kappa USA, serta pernah menjabat sebagai penanggung jawab Program S-2 Ilmu-ilmu Teknik. Tak hanya prestasi di bidang organisasi saja, Boma juga mengukir prestasi di bidang pengabdian, salah satunya adalah pernah menjabat sebagai Penasehat Direksi PT. Sari Husada di Yogyakarta.<br />
Boma pada tahun 1996 terpilih sebagai salah satu penerima Penghargaan Citra Disiplin Nasional 1996 oleh Yayasan Pendukung Karier dan Prestasi (YPKP). Upacara penyerahan penghargaan berlangsung tanggal 5 Juli 1996 di Golden Ball Room Jakarta Hilton International Jakarta. Tujuan penyelenggaraan ini adalah menampilkan para tokoh terpilih yang dapat menjadi panutan bagi generasi penerus untuk selalu bersikap dan berperilaku disiplin dalam rangka ikut menyukseskan pembangunan sehingga budaya disiplin diharapkan dapat mempercepat proses pembangungan.<br />
Perjalanan karirnya yang begitu panjang dengan berbagai jabatan struktural dan fungsional yang pernah disandangnya, tidak membuatnya meninggalkan dunia mengajar. Di sela-sela kesibukannya bekerja sebagai seorang birokrat, ia tetap mengajar. Tidak hanya di Jurusan Teknik Kimia UGM saja, ia juga pernah mengajar di hampir semua perguruan tinggi swasta di Jogja, maupun di perguruan tinggi negeri seperti IKIP Yogyakarta, Universitas Diponegoro, dan Akademi Minyak dan Gas di Cepu. Di lingkup UGM, Boma masih memberi kuliah di Program Magister Manajemen (MM-UGM). Sedangkan di perguruan tinggi swasta, ia masih mengajar di program Magister Manajemen Universitas Muhammadiyah Yogyakarta dan juga program Magister Manajemen STIE YKPN.</p>
<p>Pengalaman Tak Terlupakan</p>
<p>Salah satu pengalaman yang tak terlupakan sewaktu menjabat Sekretaris Senat Universitas Gadjah Mada adalah diberikannya tugas oleh Rektor (Ketua Senat) untuk bertindak sebagai Ketua Tim Penilai Keaslian Disertasi seorang doktor lulusan UGM. Tim yang terdiri dari lima orang guru besar UGM ini dibentuk karena adanya tuduhan dari seorang lulusan S-2 universitas negeri lain yang sebagian isi dari data tesisnya dicantumkan dalam disertasi, tidak dengan seizin penulis tesis tersebut. Setelah tim bekerja keras selama lebih dua bulan dengan melihat bukti-bukti dan bertemu dengan pihak-pihak yang terkait, maka tim berhasil menyimpulkan memang benar tuduhan tersebut dan oleh Senat Universitas Gadjah Mada, ijasah dokternya dibatalkan. Peristiwa ini sungguh sangat sensitif, karena menyangkut nasib seseorang, namun namun masyarakat luas juga mengikuti penyelesaian kasus ini dan berharap bahwa putusan yang diambil adalah setepat-tepatnya dan seadil-adilnya. Syukur alhamdulilah, tim dapat menyelesaikan tugasnya dngan baik.</p>
<p>Yang paling penting itu pendidikan</p>
<p>Dunia pendidikan sudah menjadi satu dengan pribadi Boma sejak ia masih kecil. Latar belakang keluarganya yang sebagian besar adalah orang-orang terpelajar, tentunya memberikan pengaruh yang cukup besar baginya. Apalagi sesuai pesan ayahnya bahwa pendidikan harus menjadi nomor satu.<br />
”Bekal hidup yang paling penting itu pendidikan. Melalui pendidikan, saya berharap akan bisa menjalankan kehidupan bersama keluarga untuk masa depan,” ujar pria yang sekarang sedang menekuni hobi berkebun ini.<br />
Semasa kuliah di Program S1 Jurusan Teknik Kimia, terdapat beberapa dosen dari Amerika sehingga memacunya untuk belajar berbahasa Inggris. Begitu pula saat mendapat beasiswa dari PLN, semakin memotivasinya untuk lebih giat belajar. Terbukti ia lulus hanya dalam waktu 4,5 tahun saja. Iming-iming kuliah di luar negeri membuatnya memilih jalur menjadi dosen, walau harus melepas beasiswa PLN.<br />
Sebagai seorang dosen terutama pada waktu sekarang ini, setelah memperoleh gelar doktor dan diangkat sebagai guru besar, selain mengajar berbagai mata kuliah atau membimbing untuk program sarjana maupun program pasca sarjana, ia juga melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Tercatat ada sejumlah karya ilmiah yang merupakan hasill karya mandiri maupun bersama. Cukup banyak juga makalah seminar, lokakarya, dan simposium, yang bertaraf nasional maupun internasional.<br />
Bidang teknologi bahan makanan merupakan bidang yang menjadi spesialisasinya. Ketertarikannya ini dikarenakan alasan bahwa pangan antara lain merupakan salah satu kebutuhan mutlak bagi manusia untuk dapat melangsungkan kehidupan dan menjalankan kegiatan sehari-hari. Apalagi Indonesia yang dikenal gemah ripah loh jinawi, memiliki kekayaan alam melimpah, termasuk di dalamnya kekayaan hayati. Dalam hal ini termasuk ragam makanan, baik olahan maupun mentah, mulai dari tingkat rumah tangga sampai teknologi canggih. Namun ironisnya, sebagian masyarakat Indonesia sendiri cenderung lebih menyukai produk asing dibanding buatan negeri sendiri karena produk asing dipandang lebih bergengsi. Padahal belum tentu makanan asing tersebut lebih bergizi dibanding makanan lokal.<br />
Di sinilah pembinaan dan pengembangan ilmu teknik pangan perlu dimaksimalkan baik segi manajemen maupun teknologinya. Di negara maju, berbagai macam proses dan produk baru telah dikembangkan oleh industri pengolahan makanan, sebagai hasil kerjasama antara industri, lembaga penelitian, dan lembaga pendidikan tinggi. Karena itu, perlu diadakan kegiatan penelitian pangan yang dapat memberikan kemungkinan untuk pengembangan konsep-konsep penyediaan produk pangan yang baru kepada masyarakat, dengan tetap memperhatikan faktor keamanan dan kualitas pangan. Boma pun berobsesi untuk dapat lebih banyak lagi merangsang minat generasi muda untuk menguasai teknik pangan karena jumlahnya di Indonesia memang belum banyak.<br />
Dedikasinya untuk pendidikan memang tidak perlu dipertanyakan lagi. Tidak banyak yang tahu, Boma pun pernah tergoda untuk banting setir meninggalkan dunia pendidikan untuk menjadi seorang praktisi industri di sebuah perusahaan besar. Karena terhimpit masalah ekonomi, sekitar tahun 1969 ia melamar kerja di Unilever dan Indomilk dengan harapan bisa memperbaiki ekonomi keluarga. Panggilan pertama datang dari Unilever. Setelah melalui proses seleksi, ia diterima bekerja. Boma pun meninggalkan kampus untuk memulai lingkungan kerja baru. Namun ternyata Tuhan berkehendak lain. Masa percobaan yang ia kira hanya membutuhkan waktu 3 bulan ternyata 1 tahun. Boma yang sedang bimbang, akhirnya memutuskan untuk kembali saja ke UGM, karena belum ada 3 bulan ia mengundurkan diri.<br />
”Saya sudah bertekad kembali ke UGM, apapun yang terjadi. Walaupun saat itu, banyak komentar miring, terutama mempertanyakan loyalitas saya kepada kampus. Tapi tekad saya sudah bulat,” kenangnya.<br />
Memang tidak salah pilihan Boma untuk kembali ke kampus. Hal ini dibuktikannya dengan prestasi dan pengabdiannya kepada UGM. Mulai dari jabatan Sekretaris Bagian (kemudian disebut jurusan) hingga Ketua Majelis Guru Besar sudah dilakoninya. Walau dikenal <img class="alignright size-full wp-image-27" title="boma2" src="http://chegama89.files.wordpress.com/2009/01/boma2.jpg?w=270&#038;h=210" alt="boma2" width="270" height="210" />sebagai pejabat UGM, Boma tidak pernah meninggalkan tugasnya mendidik mahasiswa. Dalam upaya peningkatan mutu belajar mengajar, menurutnya terdapat 3 unsur utama yang sangat perlu mendapat perhatian: dosen, program pendidikan &amp; kurikulum, dan sarana prasarana untuk belajar-mengajar. Namun terdapat kecenderungan bahwa fasilitas terkadang dapat membuat mahasiswa dan pelajar menjadi lebih santai dan motivasinya turun.<br />
Menurutnya, generasi muda harus memiliki semangat juang yang tinggi, serta sanggup menghadapi segala macam tantangan agar memperoleh hasil yang sebesar-besarnya. Boma beranggapan usia mahasiswa (18-24 tahun) merupakan masa-masa pemantapan personality (karakter) dalam mengembangkan kepribadian dan kedewasaannya. ”Jadilah generasi muda yang all out dan tidak tanggung-tanggung dalam mengejar prestasi,” pesannya.<br />
Khusus untuk mahasiswa Teknik, ia berpesan agar sebagai engineer tidak hanya menguasai teknologi saja tetapi juga harus menguasai pengetahuan manajemen, sehingga nantinya tidak hanya terpikir untuk mencari pekerjaan tetapi juga berpikir untuk menciptakan pekerjaan.<br />
Selain pendidikan kampus, ia juga peduli akan pendidikan TNI. Hal ini dapat dilihat dari kesediaannya memberikan pandangannya dengan cukup terinci mengenai pengembangan pendidikan bagi perwira TNI, dalam makalah yang ditulisnya dengan judul ”Pengaruh Teknologi Terhadap Pendidikan Perwira TNI”. Pendidikan memang memiliki makna besar bagi kehidupan Boma, baik bagi dirinya sendiri maupun sebagai profesinya.</p>
<p>”through education, we can tap into hundreds of years of knowledge and leverage the experience of yesterday in order to meet the challenges of tomorrow.”</p>
<p>Don’t forget to remember ….</p>
<p>Selesai pendidikan S2, Boma kembali ke Indonesia dengan membawa mobil yang dibelinya dari hasilnya menabung. Ketika itu, ada kebanggaan tersendiri baginya sebagai dosen muda yang pulang dengan membawa mobil. Ia pun merasa sudah saatnya bagi dirinya untuk membina keluarga. Tapi tingkat kehidupan setelah Gestapu memprihatinkan. Gaji dosen sangat kecil, pas-pasan untuk hidup. Belum termasuk segala pengeluaran yang timbul atas kepemilikan kendaraan.<br />
Timbul inisiatif untuk bekerja sampingan yaitu bekerja sama dengan institusi pariwisata. Jika ada turis, ia akan dihubungi oleh institusi tersebut untuk mengantarkan turis-turis dengan mobilnya sesuai keinginan mereka. Pernah ia bersama Bambang Suhendro dengan mobil masing-masing mengantarkan turis sampai ke bandara di Semarang. Peristiwa lain yang diingatnya, ia dan mobilnya pernah disewa untuk acara pernikahan. Ternyata, yang akan menikah saat itu adalah kakak seorang mahasiswa Teknik Kimia UGM! Selama itu, Boma juga merasakan duka menjadi ”supir”. Penumpang tidak tahu bahwa supir mereka itu sesungguhnya dosen dan mereka memperlakukannya seenaknya, tapi Boma berusaha untuk memahami hal itu.<br />
Pada tahun 1967, Boma menjadi pengawas Ujian Masuk Mahasiswa Baru UGM. Di sana ia bertemu dengan salah seorang calon mahasiswi yang menarik perhatiannya. Calon mahasiswi ini bernama Humi Utami. Ternyata ayah Humi Utami dan ayah Bambang Suhendro bekerja pada satu departemen, yaitu Pertanian. Berkat “dorongan” Bambang Suhendro, ia akhirnya mengenal sosok Humi Utami dan melamarnya. Keduanya berencana menikah pada bulan Juli 1969. Namun, sebelum saatnya pernikahan, ayah Humi Utami tiba-tiba meninggal. Pernikahan pun akhirnya dilangsungkan tanggal 29 Juni 1969 di depan jenazah ayah Humi Utami.<br />
Hidup ketika awal menikah terasa sulit. Boma bahkan sempat hampir banting setir ke dunia industri karena keadaannya yang sulit. Namun akhirnya ia kembali ke jalur pendidikan dan perlahan meraih kesuksesannya di dunia yang lekat dengannya sejak kecil itu.<br />
Pasangan ini dikaruniai 2 orang putera dan seorang puteri. Putera pertama lahir pada tanggal 8 Agustus 1970, diberi nama Aryoso Nirmolo. Dua tahun berselang, lahir putera kedua bernama Yodi Mahendradhata. Saat ini keduanya sedang menyelesaikan studi S3-nya sesuai bidang masing-masing, Aryoso di Jerman dan Yodi di Belgia. Si bungsu, seorang puteri yang bernama Yosvita Windy Sari, lahir tanggal 13 Mei 1975 dan lulus studi dari Fakultas Ekonomi sebagai Sarjana Ekonomi (SE). Dari putera-puterinya, Boma dan istrinya telah dikaruniai 4 orang cucu.<br />
Di luar pendidikan, sewaktu berusia muda ia suka berolahraga. Olah raga yang diminatinya adalah badminton, tennis, pingpong, dan voli. Suatu ketika ada pertandingan voli di lingkungan tempat tinggalnya antara pada dosen melawan para remaja. Ketika itu usia Boma sekitar 40 tahun. Karena pertandingan berlangsung setelah hujan, tanah lapangan menjadi licin. Boma pun tergelincir ketika akan memberikan pukulan smash. Ia menahan tubuhnya dengan tangan kirinya. Akibatnya, tulangnya mencuat, terlepas dari persendiannya. Teman-temannya segera melarikannya ke Rumah Sakit Bethesda. Sampai di R.S., Boma diberi dua pilihan untuk mereposisi tulangnya ; dibius tetapi ia harus puasa dulu beberapa jam atau langsung direposisi tanpa obat bius. Boma memilih langsung direposisi tanpa obat bius.<br />
Semakin lama kondisi badan dan kesehatan Boma sudah tidak memungkinkannya untuk banyak berolah raga. Bukan berarti ia kehilangan hobinya. Ia juga suka berkebun dan menyanyi. Mengenai hobinya menyanyi, Boma bersama beberapa dosen lainnya pernah membentuk grup band ”termahal” karena anggotanya terdiri dari para dosen senior dan profesor. Beberapa anggota bandnya antara lain Adi Susanto (T. Elektro) dan Sri Harto (T.Sipil). Di akhir minggu, Boma juga masih suka mendengarkan salah satu stasiun radio di Yogyakarta yang memutarkan permintaan lagu-lagu lama. Terkadang, ia pun ikut request lagu juga. Salah satu lagu favoritnya ’Don’t Forget to Remember’ yang dibawakan oleh The Bee Gee’s.</p>
<p>…<br />
Don\&#8217;t forget to remember me<br />
And the love that used to be<br />
I still remember you<br />
I love you<br />
In my heart lies a memory to tell the stars above<br />
Don\&#8217;t forget to remember me my love<br />
…<br />
(Don’t Forget to Remember-Bee Gees)</p>
<p>All Out</p>
<p>Seorang Boma Wikan Tyoso sangat menjunjung tinggi etika dan sopan santun. Dibesarkan di lingkungan keluarga Jawa yang sarat tradisi tentunya memberikan pengaruh besar pada pola pikir dan tingkah lakunya. Banyak pepatah Jawa yang ia jadikan tuntunan hidup. Seperti empan papan, ngemong rasa, dan berbagai pepatah Jawa yang lain. Falsafah-falsafah semacam itu dalam penerapannya perlu ketepatan sikap, tergantung konteksnya, karena kondisi satu dan yang lain berbeda.<br />
”Kalau ada orang yang tidak tepat pembawaannya, saya pasti menegurnya, untuk tidak mengulangi kesalahannya itu. Tapi mungkin saya terlalu keras menegurnya, jadi banyak orang menganggap saya galak,” tuturnya sambil tertawa.<br />
Tak hanya itu saja, ia juga berprinsip untuk selalu all out dengan semua yang dikerjakannya. Baginya, semua tugas yang diberikan merupakan kehormatan dan amanat yang harus dikerjakan sebaik-baiknya dan sepenuh hati. Karena itu, pikiran dan tenaga dicurahkan secara total. Tantangan yang ada bukan untuk dihindari tetapi harus dihadapi.<br />
”Jangan tanggung-tanggung kalau sudah menerima suatu pekerjaan. Kerjakan sebaik-baiknya. Kalau toh hasilnya tidak sesuai ya sudah, yang penting sudah berusaha maksimal jadi tidak akan menyesal dan bisa diterima dengan lapang dada,” ujarnya.<br />
Seiring dengan kesuksesan yang ia peroleh, tak lantas membuat sosok Boma ini besar kepala. Ia masih saja senang bergaul dengan siapa saja dari berbagai kalangan tanpa pilih-pilih. Sikap ramah dan riang selalu menyertai pembawaan bapak tiga anak ini. Sampai saat ini, ia memiliki keinginan yang belum tercapai yaitu ingin lebih meningkatkan spiritual intelligencenya. Namun, satu hal yang tetap ia pegang, ia tetap menomorsatukan disiplin dan kejujuran dimanapun dan kapanpun ia berada.<br />
”Tidak bisa kita hanya mengalir saja mengikuti kegiatan kita, karena untuk melaksanakannya sesuai penjadwalan diperlukan disiplin. Disiplin erat kaitannya dengan rasa tanggung jawab, jika rasa tanggung jawab ini sudah masuk dalam benak kita, maka akan mudah bagi kita untuk disiplin dengan waktu tadi,” jelas pria yang gemar makan sate kambing ini.<br />
Menurutnya, yang terpenting adalah bagaimana memanajemen waktu agar efektif dan efesien, sehingga tetap produktif di setiap kegiatan. Efektif adalah waktu yang digunakan benar-benar sesuai dengan yang telah direncanakan, sedangkan efesien yaitu mendapatkan hasil seoptimal mungkin dengan waktu sesingkat mungkin. Kunci hidup inilah yang sangat berperan besar menemaninya melewati perjalanan hidup hingga menjadi seperti sekarang ini.</p>
<p>Terapi mendisiplinkan diri ala Pak Boma: (dikutip dari Salsabil (buletin SKI \&#8217;96))<br />
1. Tentukan tujuan (target jangka panjang) dan sasaran (target jangka pendek) hidup kita<br />
2. Buat skala prioritas kegiatan berdasarkan besarnya tuntutan tanggung jawab dan disertai dengan pembuatan jadwal waktu.<br />
3. Berusaha menepati jadwal yang telah kita buat<br />
4. Bila rasa malas datang, ingatkan diri kita akan besarnya tuntutan tanggung jawab kegiatan tersebut<br />
5. Berlatih terus menerus agar diri kita menjadi efesien dan efektif, terutama dalam melaksanakan kegiatan dalam kehidupan kita yang selalu dinamis.</p><br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/chegama89.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/chegama89.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/chegama89.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/chegama89.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/chegama89.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/chegama89.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/chegama89.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/chegama89.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/chegama89.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/chegama89.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/chegama89.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/chegama89.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/chegama89.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/chegama89.wordpress.com/15/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=chegama89.wordpress.com&amp;blog=6165192&amp;post=15&amp;subd=chegama89&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://chegama89.wordpress.com/2009/01/18/mengenang-sosok-boma-wikan-tyoso/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1393e7f16e745272f39ec1c3f064519a?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">chegama89</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://chegama89.files.wordpress.com/2009/01/boma1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">boma1</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://chegama89.files.wordpress.com/2009/01/boma2.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">boma2</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hello world!</title>
		<link>http://chegama89.wordpress.com/2009/01/14/hello-world/</link>
		<comments>http://chegama89.wordpress.com/2009/01/14/hello-world/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 14 Jan 2009 02:27:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>chegama89</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=chegama89.wordpress.com&amp;blog=6165192&amp;post=1&amp;subd=chegama89&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Welcome to <a href="http://wordpress.com/">WordPress.com</a>. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!</p><br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/chegama89.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/chegama89.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/chegama89.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/chegama89.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/chegama89.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/chegama89.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/chegama89.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/chegama89.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/chegama89.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/chegama89.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/chegama89.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/chegama89.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/chegama89.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/chegama89.wordpress.com/1/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=chegama89.wordpress.com&amp;blog=6165192&amp;post=1&amp;subd=chegama89&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://chegama89.wordpress.com/2009/01/14/hello-world/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1393e7f16e745272f39ec1c3f064519a?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">chegama89</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
